Artikel / Pengelolaan Tanah
Cara Merawat Tanah Agar Subur dan Produktif
17 Agustus 2026 · Tim Teknis PT Tri Tunggal Cahaya Indonesia

Kesuburan tanah bukan sekadar kandungan pupuk di dalamnya. Tanah yang produktif adalah tanah yang secara fisik gembur dan menyimpan air, secara kimia menyediakan hara dalam jumlah seimbang, dan secara biologi dihuni organisme yang aktif (Brady & Weil, 2016). Merawat tanah berarti menjaga ketiga aspek tersebut secara bersamaan.
1. Menjaga bahan organik
Bahan organik memperbaiki pembentukan agregat tanah, meningkatkan daya simpan air, menambah kapasitas tukar kation, dan menjadi sumber hara serta energi bagi mikroorganisme. Sumber utamanya adalah kompos, pupuk kandang matang, sisa tanaman, dan pupuk hijau. Di daerah tropis bahan organik cepat terurai, sehingga penambahan perlu dilakukan berkala (Hardjowigeno, 2010).
2. Mengelola keasaman (pH) tanah
Banyak tanah di Indonesia, misalnya Ultisol dan Inceptisol, bersifat masam. Pada pH rendah, aluminium terlarut dapat meracuni akar dan fosfor terikat sehingga sulit diserap. Kisaran pH sekitar 5,5 sampai 7,0 sesuai bagi kebanyakan tanaman pangan dan hortikultura. Pengapuran dengan kapur pertanian (kalsit atau dolomit) menaikkan pH, tetapi takarannya harus berdasarkan hasil analisis tanah agar tidak berlebihan (Havlin et al., 2014).
3. Memelihara struktur dan drainase
- Kurangi pengolahan tanah yang berlebihan dan hindari mengolah saat tanah terlalu basah karena memicu pemadatan.
- Buat saluran drainase agar akar tidak tergenang, sebab genangan mengurangi oksigen dan menghambat serapan hara.
- Pada lahan miring, terapkan penanaman searah kontur, teras, atau mulsa untuk menekan erosi yang mengikis lapisan atas tanah yang paling subur.
4. Menghidupkan biologi tanah
Cacing tanah, bakteri, dan jamur berperan dalam dekomposisi bahan organik, siklus hara, dan pembentukan agregat. Rotasi tanaman, penggunaan tanaman penutup tanah, dan pengurangan penggunaan bahan kimia yang berlebihan membantu menjaga keragaman dan aktivitasnya.
5. Memantau melalui uji tanah
Uji tanah setiap satu sampai dua tahun, atau sebelum musim tanam, memberikan dasar keputusan yang objektif. Parameter yang lazim diperiksa meliputi pH, C-organik, N-total, P tersedia, K dapat ditukar, dan kapasitas tukar kation. Ambil contoh tanah komposit dari beberapa titik yang mewakili lahan, pada kedalaman lapisan olah.
Kesimpulan
Tanah yang subur adalah hasil pengelolaan terpadu: bahan organik yang cukup, pH yang sesuai, struktur yang baik, kehidupan tanah yang aktif, dan pemupukan berdasarkan data. Investasi pada kesehatan tanah memberi manfaat jangka panjang berupa hasil yang stabil dan efisiensi pupuk yang lebih tinggi.
Catatan: artikel ini memuat prinsip umum. Dosis dan jadwal yang tepat bergantung pada jenis tanaman, hasil uji tanah, dan rekomendasi penyuluh pertanian setempat.
Daftar Pustaka
- Brady, N.C., & Weil, R.R. (2016). The Nature and Properties of Soils (15th ed.). Pearson.
- Hardjowigeno, S. (2010). Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.
- Havlin, J.L., Tisdale, S.L., Nelson, W.L., & Beaton, J.D. (2014). Soil Fertility and Fertilizers: An Introduction to Nutrient Management (8th ed.). Pearson.



