Artikel / Pemupukan

Jadwal Pemupukan yang Ideal untuk Hasil Panen Maksimal

17 Agustus 2026 · Tim Teknis PT Tri Tunggal Cahaya Indonesia

Jadwal Pemupukan yang Ideal untuk Hasil Panen Maksimal

Ketepatan waktu pemupukan sama pentingnya dengan ketepatan dosis. Pupuk yang diberikan terlalu awal atau terlalu banyak sekaligus dapat hilang sebelum sempat diserap, sementara pemberian yang terlambat tidak lagi mengejar kebutuhan tanaman pada fase kritis. Prinsip ini dikenal sebagai 4T (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara) atau 4R Nutrient Stewardship dalam literatur internasional.

Dasar ilmiah pemberian bertahap

Serapan hara oleh tanaman tidak konstan. Pada awal pertumbuhan serapannya kecil, meningkat cepat pada fase vegetatif aktif, kemudian menurun saat pematangan (Fageria et al., 2011). Nitrogen mudah hilang melalui pencucian (leaching), penguapan sebagai amonia (volatilisasi), dan denitrifikasi. Membagi dosis N menjadi beberapa kali pemberian menyelaraskan pasokan dengan kebutuhan dan menurunkan kehilangan tersebut (Havlin et al., 2014). Fosfor dan kalium relatif kurang mobil di tanah, sehingga umumnya diberikan sebagai pupuk dasar.

Pola umum pemupukan

Pola berikut hanyalah ilustrasi. Sesuaikan dengan rekomendasi komoditas dan wilayah Anda.

  • Pupuk dasar (basal): diberikan saat tanam atau beberapa hari setelahnya. Umumnya seluruh P, seluruh atau sebagian besar K, dan sebagian N.
  • Susulan pertama: pada fase pertumbuhan vegetatif aktif, kira-kira tiga minggu setelah tanam untuk tanaman semusim, untuk menambah N.
  • Susulan kedua: menjelang fase pembentukan malai, bunga, atau buah, kira-kira enam minggu setelah tanam, dengan penekanan pada N dan K sesuai jenis tanaman.
  • Tanaman tahunan (misalnya kelapa sawit, karet, kopi, kakao): pemupukan dibagi dua sampai tiga kali per tahun, diusahakan pada masa tanah lembap, dan ditebar melingkar di sekitar piringan pohon.

Cara aplikasi yang tepat

  • Letakkan pupuk di zona perakaran aktif, misalnya larikan atau lubang tugal sekitar 5 sampai 10 cm dari tanaman, lalu tutup tanah agar tidak tersapu air.
  • Hindari menabur pupuk tepat sebelum hujan deras atau saat lahan tergenang, karena hara mudah terbawa aliran air.
  • Pastikan tanah cukup lembap agar pupuk dapat larut dan terserap.
  • Tabur merata dan jangan menempel batang untuk mencegah tanaman terbakar (fitotoksisitas).

Faktor yang perlu disesuaikan

Jenis tanah, curah hujan, sistem pengairan, varietas, dan target hasil dapat menggeser jadwal. Pada tanah berpasir atau musim hujan lebat, frekuensi pemberian perlu lebih sering dengan dosis lebih kecil. Catat tanggal dan dosis setiap pemupukan agar dapat dievaluasi pada musim berikutnya.

Kesimpulan

Jadwal pemupukan yang baik mengikuti pola serapan hara tanaman: dasar untuk membangun awal pertumbuhan, susulan untuk menjaga pasokan pada fase kritis. Kombinasi dosis yang tepat dan waktu yang tepat meningkatkan efisiensi pupuk sekaligus mengurangi pemborosan dan dampak lingkungan.

Catatan: artikel ini memuat prinsip umum. Dosis dan jadwal yang tepat bergantung pada jenis tanaman, hasil uji tanah, dan rekomendasi penyuluh pertanian setempat.

Daftar Pustaka

  • Havlin, J.L., Tisdale, S.L., Nelson, W.L., & Beaton, J.D. (2014). Soil Fertility and Fertilizers: An Introduction to Nutrient Management (8th ed.). Pearson.
  • Fageria, N.K., Baligar, V.C., & Jones, C.A. (2011). Growth and Mineral Nutrition of Field Crops (3rd ed.). CRC Press.
  • FAO (2006). Plant Nutrition for Food Security: A Guide for Integrated Nutrient Management. FAO Fertilizer and Plant Nutrition Bulletin 16. Rome: Food and Agriculture Organization.